Minggu, 01 April 2012

8 Sifat Yang Disukai Banyak Orang

Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.


Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Memang kenyataannya susah untuk meneladani 8 sifat diatas, namun setidaknya anda sudah mengetahuinya, so, berusahalah!

REJEKI .. TAK PERNAH SALAH ALAMAT.

Rezeki Tidak Akan Pernah Salah Alamat..
Secanggih apapun kompetitor, sekeras apapun usaha-usaha para pesaing kita, jangan pernah takut untuk tetap bersaing. Karena pada akhirnya rezeki itu akan sampai pada orang yang tepat, tidak akan pernah tertukar. Kuncinya adalah, tetap “action”, no matter what.
Yang perlu ditanamkan sekali lagi adalah bahwa Allah SWT memberikan rezeki kepada seseorang bukan hanya sekedar dari kerja kerasnya saja, tapi karena seseorang itu memang pantas untuk mendapatkannya. Sekali lagi…. karena seseorang itu memang pantas mendapatkannya di mata Allah.
Tugas kita adalah tetap melakukan sesuatu dengan kapasitas yang kita punya dalam rangka pemantasan diri untuk mendapatkan yang terbaik. Seberapa besar nanti rezeki yang kita terima dan kapan waktunya, itu bukan kuasa kita lagi. Itu semua sudah menjadi kuasa Allah.
Karena Allah paling tahu seberapa besar rezeki yang pantas kita terima..
dan Allah paling tahun kapan waktu yang tepat rezeki itu hadir.
Untuk itu.. pantaskanlah diri untuk mendapatkan yang terbaik dalam hal apapun, termasuk dalam hal rezeki.

Kamis, 13 Oktober 2011

Munajat @13102011

Ya Allah,..
aku mengadukan kepada Engkau akan segala kelemahanku..
sedikitnya kemampuanku..
dan kehinaanku dimata manusia.

Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah..
dan Engkaulah Tuhanku.

Kepada siapakah Engkau menyerahkan daku..
apakah kepada kaum yang tak berkenan menerimaku..
dengan sikap yang tidak menunjukkan keramahan..
ataukah, Engkau menyerahkan aku kepada para musuh?

Jika bukan karena kemurkaan-Mu, aku tidak akan pernah peduli.
Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu..
yang menerangi semua kegelapan..
dan membuat urusan dunia dan akhirat menjadi baik..
dari turunnya kemurkaan dan marah-Mu atasku.

Peringatkanlah aku hingga Engkau ridha.
Tiada daya dan upaya selain dariMu.

Aamiin.. Allahumma Aamiin.

Rabu, 12 Oktober 2011

YAA ALLAH.. AKU INGIN KAYA

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Terlalu banyak kebaikan yang terlewatkan dengan menjadi seorang fukaro. Terlalu sedikit peluang berkontribusi dengan menjadi seorang masaakin. Dan yang kutakutkan adalah, jika tiba saatnya kesempitan itu datang pada saat kekuatan iman sedang yankuuz, Na’udzu billah min dzaalik…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab kehormatan seorang lelaki terletak pada kakinya. Ketika ia mampu berdiri, menapak bumi dengan kakinya sendiri. Entah melangkah tertatih, atau hanya dengan gontai terseret, tak soal, yang penting dengan kakinya. Maka menjadi mustadha’afin yang ringkih, dengan kaki yang ditopang disana-sini, memang bukan kehinaan, tapi jauh dari keterhormatan…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab Engkau telah berikan aku hati yang mudah tersentuh, mata yang mudah menangis, ketika menyaksikan pahit getir kehidupan hamba-hamba-Mu. Tentu saja disanalah letak keadilan-Mu,. Tetapi aku ingin merengkuh kemuliaan tangan yang di atas, bukan tang an yang di bawah…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab aku ingin suatu saat, mampu bermunajat kepada-Mu dengan sebuah do’a yang pernah diucapkan oleh Abdurrahman bin Auf sahabat Rasul:” Ya..Allah, janganlah kau letakkan dunia dalam hatiku, tapi letakkanlah ia di bawah telapak kakiku!”…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab aku ingin memasuki surge-Mu, dari berbagai pintu yang Kau janjikan. Dan salah satunya adalah pintu kedermawanan. Seperti Utsman bin Affan sang khalifah yang meninginfakkan hartanya di medan jihad fii sabilillah…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
Sebab Engkau lebih mencintai muslim yang kuat daripada muslim yang lemah. Sesungguhnya salah satu ukuran kekuatan muslim yang kau cintai adalah, kekuatan untuk memberi…

“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”
“Ya…Allah, Aku ingin kaya…”

“Aamin…”

Senin, 10 Oktober 2011

Usia.. Rahasia Tuhan.

Usia merupakan bagian dari rahasia Tuhan. Sama dengan jodoh dan rezeki. Ketiganya sudah ditakar oleh Tuhan. Tidak ada seorang hamba pun di muka bumi ini yang dapat mengetahui dan mengubahnya. Usia seseorang sudah ditentukan dalam ketetapan-Nya. Belum ada, dan tak akan pernah ada, seseorang yang kuasa mengubah, apalagi menolak, ketika usia seseorang sudah mencapai titik finish. Mempercepat atau memperlambatnya. Sedetik pun.

Sebagai sebuah rahasia, seorang hamba tidak dapat mengetahui berapa jatah usianya untuk mampir di dunia fana yang sebentar ini. Kita tidak pernah tahu, kapan Malaikat Maut akan bertamu, meski tidak kita undang, untuk mencabut nyawa kita. Bisa tahun depan, bulan depan, minggu depan, besok, malam nanti, hari ini, atau sebentar lagi.

Memiliki obsesi yang tinggi dan kecintaan terhadap dunia sering membuat kita lupa bahwa maut itu bisa datang kapan saja. Tidak menunggu usia kita renta. Maut adalah sesuatu yang tidak pasti sekaligus pasti. Ya, tidak dapat dipastikan oleh manusia kapan maut itu kapan datang. Tetapi, maut dapat dipastikan datang menjemput manusia. Maut bisa datang dengan cara apa pun. Bisa didahului sakit, dan bisa tanpa sebab. Maut datang tiba-tiba, tanpa pamit.

Jika kita dapat mengetahui kapan usia seseorang akan berakhir, atau maut terlebih dahulu ketika ia hendak menjemput, tentu kita bersiap-siap terlebih dahulu untuk meninggalkan dunia ini. Menyelesaikan seluruh urusan duniawi, menambah bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kehidupan abadi, serta memohon ampun dari lumuran dosa.

Sayangnya, kapan usia kita berakhir tidak pernah diketahui, dan maut pun tak pernah pamit. Maut bisa saja menjemput kita pada saat beribadah, dan bisa saja ruh kita berpisah dengan jasad kita pada saat kita melakukan maksiat.

Kita tidak memiliki opsi dalam menghadapi usia. Opsi satu-satunya yang kita miliki hanya mempersiapkan diri untuk dipanggil menghadap-Nya, dengan bekal kebaikan sebanyak mungkin.