Tanggalkan kekhawatiranmu
dan jadilah bersih hati,
bagaikan permukaan sebuah cermin
yang tiada ada bercaknya.
Bila ‘kau dambakan cermin yang bening,
lihatlah kepada dirimu sendiri,
dan tengoklah kebenaran apa adanya,
yang dipantulkan oleh cermin.
Bila besi bisa digosok
hingga berkilau bagai cermin
gerangan penggosok macam apa
yang cermin hatimu butuhkan ?
Antara cermin dan hati..
ada satu perbedaan nyata..
hati menyimpan rahasia..
sedangkan cermin tidak.
Minggu, 02 Oktober 2011
Hati yg Bening..
Memang luar biasa orang yg memiliki hati yg Indah..
Nikmat datang tak pernah membuat lalai bersyukur..
sementara sekalipun musibah yg menerjang..
sama sekali tak akan pernah mengurangi
keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya.
Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lbh dalam..
atas musibah yang menimpa diri sehingga tergapailah sang mutiara hikmah.
Ya.. sungguh teramat beruntung siapapun yg senantiasa berikhtiar..
dgn sekuat-kuat utk memperindah hatinya.
Nikmat datang tak pernah membuat lalai bersyukur..
sementara sekalipun musibah yg menerjang..
sama sekali tak akan pernah mengurangi
keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya.
Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lbh dalam..
atas musibah yang menimpa diri sehingga tergapailah sang mutiara hikmah.
Ya.. sungguh teramat beruntung siapapun yg senantiasa berikhtiar..
dgn sekuat-kuat utk memperindah hatinya.
Neraka Sesungguhnya..
Tidak
puas.. tidak bersyukur..
Suka mengeluh.. suka protes..
itulah neraka sesungguhnya.
Dan setelah didalami..
Neraka bukan tempat.. melainkan hasil dari serangkaian sikap.
Bila sikapnya suka membandingkan..
terutama dengan yang lebih tinggi dan lebih baik, neraka akibatnya.
Bila sikapnya mengalir dengan penuh rasa syukur, surga adalah buahnya.
Suka mengeluh.. suka protes..
itulah neraka sesungguhnya.
Dan setelah didalami..
Neraka bukan tempat.. melainkan hasil dari serangkaian sikap.
Bila sikapnya suka membandingkan..
terutama dengan yang lebih tinggi dan lebih baik, neraka akibatnya.
Bila sikapnya mengalir dengan penuh rasa syukur, surga adalah buahnya.
Jumat, 30 September 2011
Seruling dan Bambu
Dialog antara seruling dan bambu..
Karena seruling dikagumi, bambu kemudian cemburu.
Dengan lembut seruling mengungkapkan..
bahwa dulunya ia juga bambu.
Namun, melalui serangkaian rasa sakit yang tajam dan mendalam seperti dipotong golok sampai dilobangi pisau, kemudian ia bisa mewakili keindahan dengan suara menawan.
Karena seruling dikagumi, bambu kemudian cemburu.
Dengan lembut seruling mengungkapkan..
bahwa dulunya ia juga bambu.
Namun, melalui serangkaian rasa sakit yang tajam dan mendalam seperti dipotong golok sampai dilobangi pisau, kemudian ia bisa mewakili keindahan dengan suara menawan.
Jumat, 05 Agustus 2011
Memuji.. jangan berlebihan
“Hebat ya Salman itu. Dia itu sudah kaya, cakep, aktivis Rohis, dermawan lagi,” ucap Faiz. “Iya, kemarin lho, aku perhatiin Salman itu habis nyumbang di Masjid sekolah kita sampai satu juta,” timpal Ukhti Rasyid. “Wah, udah pasti Akhi Salman itu bakal jadi konglomerat di Akhirat nanti,” ucap Faiz menutup obrolan.
Sering tidak kita sadari, kita melakukan perbuatan yang kita anggap biasa saja atau kita anggap sebagai kebaikan, tapi ternyata di menurut Allah perbuatan itu adalah sebuah dosa. Kita harus akui, sehebat apa pun kita, kita tidak akan bisa seumur hidup terbebas dari dosa sekecil apa pun. Salah satunya, adalah memuji. Kita anggap memuji itu hal yang wajar bahkan bisa menjadi baik ketika ada yang menakjubkan. Siapa sih yang tidak suka dipuji. Semua orang suka dipuji. Betul? Tapi tahukah kita bahwa memuji itu tidak boleh sembarangan?
Pertama, tidak boleh memuji diri sendiri. Sebab kita tidak tahu apakah diri kita ini adalah hamba yang baik menurut Allah. Allah berfirman, “Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dia lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” [Al-Qur`an surah An-Najm ayat no. 32] Rasulullah juga pernah mewasiatkan, “Janganlah menganggap diri kalian suci. Hanya Allah lah yang mengetahui siapa yang baik di antara kalian.” [Shahih: Mukhtashar Shahih Muslim no. 1407] Kecuali kalau kebaikan diri kita itu adalah masalah duniawi dan tanpa berlebihan dalam menilai diri. Allah mengisahkan Nabi Yusuf, “Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’.” [Al-Qur`an surah Yusuf ayat no. 55]
Kedua, usahakan tidak memuji siapa pun kecuali Allah, yang memang pantas, berhak, dan wajib kita puji dan sanjung. Rasulullah berkata, “Jauhilah sanjung-menyanjung, karena sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” [Shahih: Ash-Shahihah no. 1284]
Ketiga, ada kalimat khusus ketika terpaksa, (ingat ya, terpaksa!) memuji seseorang. Sebagaimana dikisahkan oleh Abu Bakrah, bahwa ada seorang pria yang disebut-sebut di hadapan Rasulullah. Kemudian berkatalah seseorang, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang lebih baik darinya setelah Rasulullah dalam hal ini dan itu.” Rasulullah segera angkat suara, “Hei, anda telah memenggal leher kawan anda.” Beliau mengatakannya tiga kali. Setelah itu Rasulullah berkata, “Jika salah seorang di antara kalian harus menyanjung saudaranya, hendaklah ia berkata, ‘Menurutku, si Fulan adalah demikian, jika ia memandangnya seperti itu, dan tidaklah aku menyucikan seorang pun di atas Allah.” [Shahih: Mukhtashar Shahih Muslim no. 1510]
Keempat, kalau ingin memuji seseorang atas kebaikannya yang kita saksikan sendiri, pujilah dia ketika dia sudah wafat. Kalau masih hidup, jangan, soalnya kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Bisa jadi di akhir hidupnya dia banyak berbuat maksiat. Lebih-lebih, kalau seseorang dipuji ketika masih hidup, bisa-bisa dia jadi takabbur (sombong), ‘ujub sama dirinya, tidak ikhlas dalam beramal. Rasulullah berkata, “Janganlah kalian merasa takjub dengan amal seseorang, hingga kalian melihat bagaimana hidupnya berakhir.” [Shahih: Ash-Shahihah no. 1334]
Kita sebagai seorang Muslim harusnya keinginan dipuji itu cuma dipuji Allah. Tidak perlu kita berharap pujian dari manusia. Selain tidak berefek apa-apa buat akhirat kita, juga pujian manusia itu bisa bikin kita lupa diri dan lupa ikhlas. So, jangan lebay yach kalo memuji. Kecuali memuji Allah, mesti sebanyak-banyaknya.
Surabaya, 30 Dzul Qa’dah 1431
Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)
Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed
Disebarkan oleh www.thaybah.or.id
Sering tidak kita sadari, kita melakukan perbuatan yang kita anggap biasa saja atau kita anggap sebagai kebaikan, tapi ternyata di menurut Allah perbuatan itu adalah sebuah dosa. Kita harus akui, sehebat apa pun kita, kita tidak akan bisa seumur hidup terbebas dari dosa sekecil apa pun. Salah satunya, adalah memuji. Kita anggap memuji itu hal yang wajar bahkan bisa menjadi baik ketika ada yang menakjubkan. Siapa sih yang tidak suka dipuji. Semua orang suka dipuji. Betul? Tapi tahukah kita bahwa memuji itu tidak boleh sembarangan?
Pertama, tidak boleh memuji diri sendiri. Sebab kita tidak tahu apakah diri kita ini adalah hamba yang baik menurut Allah. Allah berfirman, “Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci. Dia lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” [Al-Qur`an surah An-Najm ayat no. 32] Rasulullah juga pernah mewasiatkan, “Janganlah menganggap diri kalian suci. Hanya Allah lah yang mengetahui siapa yang baik di antara kalian.” [Shahih: Mukhtashar Shahih Muslim no. 1407] Kecuali kalau kebaikan diri kita itu adalah masalah duniawi dan tanpa berlebihan dalam menilai diri. Allah mengisahkan Nabi Yusuf, “Berkata Yusuf, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’.” [Al-Qur`an surah Yusuf ayat no. 55]
Kedua, usahakan tidak memuji siapa pun kecuali Allah, yang memang pantas, berhak, dan wajib kita puji dan sanjung. Rasulullah berkata, “Jauhilah sanjung-menyanjung, karena sesungguhnya itu adalah penyembelihan.” [Shahih: Ash-Shahihah no. 1284]
Ketiga, ada kalimat khusus ketika terpaksa, (ingat ya, terpaksa!) memuji seseorang. Sebagaimana dikisahkan oleh Abu Bakrah, bahwa ada seorang pria yang disebut-sebut di hadapan Rasulullah. Kemudian berkatalah seseorang, “Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang lebih baik darinya setelah Rasulullah dalam hal ini dan itu.” Rasulullah segera angkat suara, “Hei, anda telah memenggal leher kawan anda.” Beliau mengatakannya tiga kali. Setelah itu Rasulullah berkata, “Jika salah seorang di antara kalian harus menyanjung saudaranya, hendaklah ia berkata, ‘Menurutku, si Fulan adalah demikian, jika ia memandangnya seperti itu, dan tidaklah aku menyucikan seorang pun di atas Allah.” [Shahih: Mukhtashar Shahih Muslim no. 1510]
Keempat, kalau ingin memuji seseorang atas kebaikannya yang kita saksikan sendiri, pujilah dia ketika dia sudah wafat. Kalau masih hidup, jangan, soalnya kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya. Bisa jadi di akhir hidupnya dia banyak berbuat maksiat. Lebih-lebih, kalau seseorang dipuji ketika masih hidup, bisa-bisa dia jadi takabbur (sombong), ‘ujub sama dirinya, tidak ikhlas dalam beramal. Rasulullah berkata, “Janganlah kalian merasa takjub dengan amal seseorang, hingga kalian melihat bagaimana hidupnya berakhir.” [Shahih: Ash-Shahihah no. 1334]
Kita sebagai seorang Muslim harusnya keinginan dipuji itu cuma dipuji Allah. Tidak perlu kita berharap pujian dari manusia. Selain tidak berefek apa-apa buat akhirat kita, juga pujian manusia itu bisa bikin kita lupa diri dan lupa ikhlas. So, jangan lebay yach kalo memuji. Kecuali memuji Allah, mesti sebanyak-banyaknya.
Surabaya, 30 Dzul Qa’dah 1431
Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)
Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed
Disebarkan oleh www.thaybah.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)